Assalamu'alaikum..
Apa kabar temen-temen?? Pasti baik-baik aja dong ya??
Setelah lama gak nulis karena sibuk syuting karena beberapa alasan, sekarang saya mau nulis lagi, soalnya kalo numis gak ada kompor (apaan dah). Jadi, saya mau cerita tentang kejadian yang baru aja dialamin di kelas. Sebenernya mau nahan-nahan untuk gak ceritain ini, tapi ternyata gak bisa, karena banyak pelajaran bagus di kejadian itu yang mungkin gak bisa kita pelajarin di kelas. Jadi saya putusin buat nulis ceritanya dengan singkat aja. Yaudah, langsung aja dimulai ya, siap kan??? Siap dong, hehe.
"Guruku tersayang, guruku tercinta, tanpamu apa jadinya aku" -Lagu di bel sekolah jaman SMA-
Kutipan lagu diatas cukup menjelaskan bahwa guru merupakan bagian utama yang paling penting dalam kesuksesan kit. Tanpa guru, apa jadinya kita. Mungkin gak bisa baca tulis, ngitung huruf, tau kalo ada bulan di langit, ikan di laut, tukang parkir di alf*ama*rt,
Kejadiannya sih belum lama, sekitar beberapa hari yang lalu di kampus. Jadi waktu akhir pertemuan di salah satu mata kuliah ada salah satu mahasiswa yang protes kepada dosen ( sebut aja Ibu X). Alasannya sepele sih, malah bisa dibilang receh. Mahasiswa itu gak terima kalo dirinya itu terus-terusan dipojokan karena sang dosen terus nagih janji ke dia yang bakal ngejelasin buku yang dia baca.
Padahal, dosen itu nunjuk dia untuk baca buku dan ngejelasinnya karena memberi kesempatan lebih ke dia untuk bisa lebih maju dari mahasiswa yang lain. Namun niat baik dosen itu ternyata dianggep salah oleh si mahasiswa yang berbuntut protesnya dia. Saya termasuk orang yang mendukung apabila ada mahasiswa yang berani protes ke dosen, tapi cara penyampaiannya harus benar. Ingat, harus benar.
"Lho emang penyampaian protesnya temenmu itu gak bener?"
Ya jelas enggak lah. Dia menyampaikan ketidaksukaannya dengan salah. Mimik mukanya marah, intonasi suaranya tinggi, bola matanya hampir keluar dari kelopak matanya saat menatap si dosen, dan jari-jarinya gak berhenti buat terus nunjuk-nunjuk dosen. Jelas kan, ini tindakan baik dengan cara yang buruk.
Okelah, kalo memang dosen itu berbuat dzolim ke si mahasiswa. Saya maklum karena sebagian orang yang di dzlimi pasti melawan. Tapi kan ini bukan perbuatan dzalim, ini proses mendidik yang memang menurut saya benar, memberikan kesempatan lebih buat murid yang memang perlu diberikan kesempatan lebih. Lalu kenapa dia menganggap didzalimi???
Apa sih susahnya ngelakuin yang memang disuruh dosen?? Cuma mampu satu bab juga gak akan di drop out dari kampus kok, gak akan! Da emang itumah sia weh nu males (mulai emosi bung, hahaha)
"Terus, pelajarannya apa?"
Pelajarannya saya lupa, soalnya saya duduk di pojok belakang, sambil main handphone. Hahaha. Gak deng, orang saya tidur.
Pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari kejadian diatas itu banyak, banyak banget. Pertama, kita harus bisa menyampaikan ketidaksukaan kita dengan cara yang benar. Ingat, benar! Menyampaikan apa yang kamu rasakan dengan tenang dan tanpa emosi akan membuat kita terlihat lebih elegan, lebih keren, lebih gentleman, dan yang lebih penting, kita gak terlihat KAMPUNGAN.
Kedua, kita harus bisa berbaik sangka dengan siapapun. Dengan guru, dosen, orang tua, teman, kang cuanki, satpam kampus, kang parkir alf*ma*rt yang tiba-tiba nongol, ibu-ibu yang naik motor di jalan, pokoknya dengan siapapun. Coba deh, kita berbaik sangka aja dengan apapun yang orang lain lakukan. Dengan demikian mudah-mudahan kita dijauhkan dari rasa amarah yang datangnya dari nafsu dan setan.
Ketiga, perihal sopan santun dan moral. Sebenernya sopan santun dan moral saya masih kurang sih. Tapi apa salahnya kita sama-sama belajar dan saling mengingatkan?
Kejadian tersebut menjelaskan bagaimana si mahasiswa ini memperlakukan orang yang lebih tua, yang mungkin termasuk orang tuanya. "Wong sama dosen yang orang lain aja berani bentak, melotot, nunjuk-nunjuk kok tanpa mikirin gimana perasaan anaknya ibunya diperlakukan demikian. Gimana ke orang tuanya?". Itu ucap saya didalam hati diiringi istighfar dan lagu eta terangkanlah.
Saya gak bisa membayangkan bagaimana si mahasiswa ini memperlakukan orang tuanya, saya gak bisa membayangkan juga gimana perasaan anaknya dosen saya yang mungkin gak pernah seperti itu ke ibu kandungnya sendiri saat tau ibu yang mereka sayang dibentak oleh mahasiswanya yang baru kemarin sore jadi mahasiswa. Mikir deh yuk, gimana perasaan kalian saat ibu kalian dalam posisi yang demikian? Sakit kan pasti? Itu yang saya pikirkan, karena saya lahir dari ibu yang juga seorang pendidik.
Saya juga pernah baca di salah satu buku bahwa berkahnya ilmu itu atas dasar keikhlasan dan keridhoan dari 3 orang:
1. Orang tua yang melahirkan, membesarkan, dan membiayaimu sekolah;
2. Guru, karena dengan sabar mendidikmu agar pintar;
3. Kamu sendiri, karena kamu yang menerima ilmunya.
Kalo dari gurumu udah gak ikhlas dan ridho malah bahkan sakit hati, berkah gak ilmu yang kamu punya? Gak kan?
Misalnya kedepannya kamu jadi pejabat, pengusaha, orang sukses, atau siapapun tapi ilmu yang kamu punya gak berkah, berkah juga gak gaji yang kamu dapat? Berkah juga gak makanan yang kamu beli dari gaji tersebut? Berkah juga gak daging di tubuhmu yang berasal dari makanan tersebut?
Hayoooo mikir... Hehehe....
Keempat, belajarlah mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memberikan maaf. Setelah si mahasiswa ini mencak-mencak (marah-marah), dosen saya ini masih bisa tenang walau saya tau beliau menahan nangis, menjelaskan dengan baik dan meminta maaf ke si mahasiswa. Catet, dosen yang minta maaf! Padahal saya dan teman kelas yang lain yakin kalo dosen ini gak salah. Beliau juga terus-terusan meminta si mahasiswa untuk makan, bahkan akan dibayar oleh beliau. Moment yang paling bikin saya salut juga dengan beliau, karena beliau menegaskan berkali-kali bahwa nilai si mahasiswa ini aman. Beliau gak akan memberi mahasiswa ini nilai dibawah B+. Masya Allah...
Walaupun dosen sudah meminta maaf berkali-kali, entah setan apa yang masuk ke si mahasiswa, dia masih belum kasih maaf ke dosen. "saya masih belum maafin ibu" kurang lebih kayak gitu ucapan dia masih dengan tatapan dan gestur tubuh yang angkuh. Astaghfirullahaladzim. Berkali-kali saya istighfar waktu itu, selain karena menahan amarah saya, saya juga berdoa agar anak keturunan saya gak ada yang kayak mahasiswa ini.
Mungkin segitu aja tulisan saya kali ini. Semoga teman-teman bisa mengambil pelajaran dan hikmah juga dari kejadian ini. Semoga teman-teman menjadi orang yang hormat, patuh dan berperilaku baik kepada orang tua dan guru, termasuk dosen. Saya menyarankan senyebelin apapun guru, dosen, dan orang tuamu, lebih baik kamu diam. Sebab keberkahan hidupmu juga dipengaruhi oleh do'a-do'a mereka.
Ingat, tulisan ini cuma opini dari saya yang bisa benar dan bisa juga salah.
Sebelum ditutup, saya mau bagiin satu quotes, ah.
"Perlakuanmu kepada gurumu mencerminkan perlakuanmu kepada orang tua kandungmu" -@listiawannn-
Wassalamu'alaikum
Bandung, 30 November 2017
Ditulis dengan sedikit emosi dan kecewa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar