Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Udah lama gak nulis disini, sekalinya nulis topiknya ngeri banget. Haha. Gapapalah, jauh lebih ngeri mati-matian perjuangin orang yang salah. Huehehe
Oke, lanjut aja ya. Mati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah hilang nyawa atau tidak hidup lagi. Sedangkan menurut ahli medis kematian terjadi apabila berhentinya seluruh aktifitas metabolisme dalam tubuh manusia. Jadi, kematian adalah hilangnya nyawa seseorang karena berhentinya seluruh aktifitas metabolisme tubuh.
Kenapa tiba-tiba saya bahas tentang mati setelah lama gak nulis di sini?
Oke, saya cerita dulu. Jadi, kemarin saya iseng buka-buka foto di facebook dan nemu foto salam di atas puncak gunung dari seseorang, ini fotonya:
Lho kok gara-gara foto gitu aja jadi inget mati? Lebay deh!
Yeeeh, bukan masalah fotonya, kursi konter. Tapi orang yang ngirimnya. Jadi doi yang ngirim ini temen deket saya, temen yang paling sering saya repotkan, temen diskusi tentang isu konflik di timur tengah (berat yaa), temen yang paling sering telinganya denger keluh kesah saya, dan yang paling jago dalam kasih saran yang bagus serta solutif. Singkat cerita, dia sudah dipanggil Allah Subhanahu wa Ta’ala karena suatu penyakit. Bukan masalah kepergiannya yang bikin saya teringat tentang kematian, tapi kejadian sebelum kepergiannya yang bikin saya teringat hingga sekarang.
Setelah lama putus kontak karena kesibukan kuliah kami, saya baru dengar kabar kalo dia dirawat di salah satu RS karena sakit. Akhirnya saya coba memutuskan untuk chat ke dia, nanya kabar dan di rawat di ruang berapa. Entah kenapa, saat itu saya kepengen banget jenguk. Sayangnya waktu itu dia belum bisa dijenguk, karena masih dalam ruang HCU. Okelah saya pikir beberapa hari kedepan dia sudah pindah ke ruang rawat inap dan bisa saya jenguk.
Tapi, besok siangnya saya dengar kabar kalo dia sudah dipanggil Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kaget, gak percaya, dan sedih dong pastinya. Gimana enggak, kemarin dia masih sempat balas chat, masih ngobrol biasa, masih sempat bercanda, dan masih bisa bilang kalo dia baik-baik aja.
Ada satu cerita lagi yang saya alami langsung bahwa kematian bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dalam suasana apa saja. Cerita ini sewaktu saya Praktikum I di salah satu kelurahan di Bandung. Singkat cerita saat itu salah satu karyawan di kelurahan tempat saya praktikum dipanggil Allah Subhanahu wa Ta’ala pada siang hari setelah acara di kelurahan. Padahal, menurut teman-teman satu kelompok pagi itu beliau masih semangat dalam mengikuti acara dan bahkan masih sempat meminta lagu kepada pemain organ tunggal sebelum akhirnya jatuh dan meninggal dunia. Banyak yang gak menyangka waktu itu, termasuk saya yang sehari sebelumnya masih bertemu dan ngobrol sedikit dengan beliau kalau saat acara saya berhalangan untuk hadir karena ada keperluan lain.
Dari dua pengalaman saya di atas, saya makin yakin kalau yang pasti itu memang mati. Kita belum pasti akan jadi sarjana, akan kaya, akan sukses, dan akan menikah nantinya. Tapi kita pasti akan mati, bahkan sebelum semua hal tadi terwujud. Kita bisa merencanakan esok akan kemana, cuma kita gak bisa menjamin esok kita masih bisa membuka mata dan bernafas seperti biasa. Kita bisa deketin doi, cuma kematian itu lebih deket dari doi, bisa aja sebelum kita nembak doi malaikat izroil udah nembak kita duluan. Karena kematian itu gak bisa ditentukan (kecuali kalo kalian mau bunuh diri ya, huehehe), bahkan 10 menit kedepan kita akan seperti apa juga gak ada yang menjamin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [Al Anbiya:34-35].
Pertanyaannya, sudah siapkah kita untuk kepastian itu?
Hayooo....
Kita bisa minta kepastian dari doi, cuma gak bisa minta kepastian dari mati. Hehe
Kita banyak berkorban untuk hidup enak yang mungkin masih lama dan sering lupa kalo mati enak juga perlu karena bisa jadi besok kita mengalaminya. Lagian kematian gak bisa kita hindari tuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An Nisa’:78]
Udah ah, gak mau kutip banyak ayat, biar kalian buka-buka sendiri Al-Qur'an buat carinya. Hehe.
Jadi, yuk ah siapin diri menghadapi kepastian mati, jangan cuma siapin diri buat siapin kepastian dari doi. Masih jauh cyiiiiinnn...
Banyakin ibadahnya, banyakin amal kebaikannya, banyakin nolong orangnya, banyakin sedekahnya. Kurang-kurangin juga tuh hal-hal buruk yang sia-sia, kayak ngeghibah, stalking lambe turah, nonton karma, pokoknya yang berpotensi bikin dosa lah. Hehe
Udah ah, segitu dulu ngetiknya, masih ada revisian skripsi yang udah bete minta digarap.
Tulisan ini hanya opini saya aja ya, jadi bisa aja salah, bisa juga benar. Tulisan ini juga dibuat bukan berarti saya sudah baik atau sholeh, bukaaan, saya nulis ini untuk mengingatkan diri sendiri dan untuk mengingatkan temen-temen semua kalo kita harus mempersiapkan mati yang udah pasti. Kan sebagai sesama manusia harus saling mengingatkan, karena saya menganggap temen-temen semua sebagai manusia, jadi saya ingatkan deh. Hehe
Sekian, mohon maaf jika ada salah dan kekurangan. Mohon juga kasih tau kalo ada saran biar bisa kita diskusikan.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
