Senin, 05 Juni 2017

Belajar bahagia dari adik-adik Rumah Harapan Indonesia

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Apa kabar pembaca yang budiman, yang luragung, yang primajasa, dan yang widia? Sehat kan?
Gimana puasanya? Semoga lancar ya...

Kali ini saya mau nulis pengalaman berkesan saat bertemu adik-adik di Rumah Singgah Indonesia saat acara Senyum Sahabat Penyintas yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Volunteer, nih!


Singkat cerita siang itu setelah hampir 3 jam perjalanan dari Cibarusah akhirnya saya sampai ke sebuah rumah singgah di daerah Tebet yang dihuni adik-adik yang sedang berjuang melawan penyakitnya, Rumah Harapan Indonesia namanya. Di RHI ini dihuni kurang lebih 20 adik-adik dan juga para orang tuanya untuk sekedar singgah sambil menjalani pengobatan di beberapa rumah sakit di Jakarta. Saat pertama masuk ke RHI ini suasana hangat ala rumah sangat terasa disini. Dimana adik-adik bisa bermain, tidur, makan, nonton tv dan menjalankan aktivitas lain layaknya di rumah sendiri.

Ada beberapa adik yang saya kenal, seperti Ahmad, Putri, Ilham, dan si bungsu Syahdan. Ada yang menarik perhatian saya saat melihat Syahdan ini yaitu sebuah lubang dan alat bantu yang dipasang dokter di tenggorokannya. Saya sedikit bergidik ngeri melihatnya, 'bagaimana bisa anak sekecil itu bisa dipasang lubang dan alat bantu di tenggorokannya?' tanya saya dalam hati karena memang usia Syahdan belum genap dua tahun. Namun pertanyaan itu urung saya lontarkan karena perhatian saya tertuju pada tingkah lucunya saat itu. Bagaimana tidak, dengan penyakit yang menurut saya sangat berat untuk anak seusianya (dan bahkan seusia saya) adik yang satu ini masih bisa ceria dan gak 'rewel. Dan pada akhirnya saya memberanikan diri untuk menggendong Syahdan meskipun sedikit ngeri.

Saya dan dik syahdan (pic by: @andy_ht)

Setelah acara selesai, saya pun mencari tahu keadaan Syahdan yang sebenarnya di web RHI. Ternyata dia menderita TB Paru dan Laringomalasia Tipe 2 atau penyempitan di saluran napas di bawah tenggorokan di usia 5 bulan. Karena penyakitnya ini Syahdan kesulitan untuk bernapas kalau tidak dibantu dengan tabung oksigen. Dan karena penyakitnya juga, saat usia setahun lehernya harus dilubangi untuk bisa mengalirkan dahak dan membantu bernapas. Saya juga mendengar suara berat seperti seorang yang mengorok saat Syahdan bernapas. Artikel tersebut juga menjelaskan bahwa Syahdan adalah seorang anak yatim dimana ayahnya meninggal dunia saat tujuh bulan ia dalam kandungan ibunya. Kini, Syahdan dan ibunya harus berjuang bersama demi kesembuhan syahdan.

Saya jadi ingat lagi tulisan saya beberapa waktu lalu yang berjudul Kapan TIdak Ada Masalah yang membahas bahwa masalah itu gak membesar, hanya kemampuan menghadapi masalah yang makin lama makin mengecil seiring mendewasanya kita. Dan memang ini terbukti didalam RHI ini, dimana hampir seluruh adik-adik disini masih bisa ceria dan bahagia tanpa beban walaupun penyakit yang sedang dideritanya sangat berat. Berbeda dengan kita, yang terkadang walaupun hanya mengidap penyakit yang ringan tapi sudah banyak mengeluh, upload foto obat dengan caption seolah dirinya yang paling menderita di dunia ini, tidak bersyukur dengan keadaan atau malah mengutuk Tuhan atas penyakit yang kita derita. Na'udzubillahimindzalik.

Makanya, yuk jauh lebih mensyukuri yang ada, kayak lagu yang bilang 'ingat lima perkara sebelum lima perkara'. Bersyukur saat kita sehat dengan banyak berbuat baik dan bersabar saat kita sakit dengan banyak berdoa serta gak banyak mengeluh. Belajarlah dari adik-adik di RHI yang masih bisa tersenyum saat mereka dihadapkan dengan penyakit yang memang berat bagi anak seusia mereka.


Ingat, tulisan ini gak akan bisa membantu menyelesaikan tugas kuliah apalagi skripsi kalian, tapi seenggaknya tulisan ini bisa jadi hiburan buat kalian yang mungkin suntuk dengan keadaan apalagi mantan yang terus gentayangan. Dan satu lagi semua yang saya tulis di blog ini adalah Opini yang bisa saja salah, bisa juga benarHehehe.

Jangan lupa juga, doakan adik-adik dan orang tuanya di RHI agar Allah mengangkat penyakitnya dan memberikan kekuatan untuk melawan penyakitnya.

Bandung, 5 Mei 2017

Lampiran:

Artikel tentang keadaan Syahdan: Syahdan Belajar Bernapas
Artikel tentang keadaan Ahmad: Ahmad Melawan Jantung Bocor

Beberapa foto kegiatan SSP kemarin

Keseruan kakak-kakak dan adik-adik saat membuat socks puppet

Dongeng dari Kak Wahyu

Buka puasa bersama kakak-kakak dan adik-adik

Adiknya udah akrab sama kakaknya nih :)

Foto bareng mamah-mamah luar biasa. Terima kasih RHI :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar